Tampilkan postingan dengan label Karya Seniman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Seniman. Tampilkan semua postingan

Dan Tinggalkanlah Ini Untuk Sebuah Kerinduan

Diposting oleh Unknown on Senin, 17 Juni 2013

Dan tinggalkanlah untuk sebuah kerinduan, puisi  herman subarkah



Jika harus meninggalkan semua ini, tinggalkanlah...
Bila harus mendekap kerinduan itu, mendekaplah...
Dan semua ini tentang kehidupan yang berjalan
Gerak langkahmu menari menuju apa yang kau inginkan

Sesosok bidadari menebarkan sayapnya karena ingin terbang
Menuju entah apa namanya namun menyenangkan
Mencari keseimbangan dengan tubuh yang kelelahan
Mencuri waktu untuk sebuah kerinduan

Sebatang mawar terlihat mekar dan telah terbuka
Sang mawar menghirup udara dan sudah mulai merasa
Kelopak bunga dan tangkainya ingin kau sentuh mesra
Ingin engkau menghirup wanginya sang mawar seraya menjaga

Dan sebuah pohon harus selalu tegar berdiri kerena ingin tumbuh
Walaupun merasakan angin yang dihembuskan jauh
Menghirup udara untuk bernafas
Menjatuhkan buah yang manis ditaman dan tak ingin terlepas

Dan tinggalkanlah ini untuk sebuah kerinduan
Berjalan dari kehidupan ke kehidupan
Bunda berlari untuk seorang perempuan
Seperti biduan yang bersuara melawan kegelapan
More aboutDan Tinggalkanlah Ini Untuk Sebuah Kerinduan

Puisi,Sitok Srengenge

Diposting oleh Unknown

Duka kadang datang bersama gerimis dan hawa dingin

Kemiskinan bagai belenggu, tak semua orang mampu beranjak


Nasib seganas godam yang menghantam pelipis kaum lemah

Mereka yang tak tahan, memilih mati dengan cara lain



Maut menyamar sebagai peri ayunan

Merengkuh dan menimang sampai kita hilang ingatan


Lalu gerimis menjadi metafora yang klise

Mewakili airmata dan siklus kesedihan


Aku atau kau, siapa pun yang tinggal, menggigil dan kesepian

Sejenak. Tak lebih lama dibanding kenangan hawa dingin



sitok srengenge,1988
More aboutPuisi,Sitok Srengenge

Kata Yang Menakutkan

Diposting oleh Unknown



Baca aku sebagai jejak di tanah berdebu

dibasuh hujan diseka angin ditimang waktu

pada senja temaram ketika kau sedang merindu

kekasih pertama yang menyentuh suri rambutmu

Catat apa yang mungkin kau ingat

tentang tengkuk yang meremang, dingin keringat

sengat lebah yang menjalarkan hangat ke seluruh tubuh

membuatmu lumpuh tak mampu mengaduh



Dengar aku sebagai igauan huruf-huruf gagu

di antara catatan-catatan emas di buku harianmu

meski aku cuma coretan-coretan iseng pada margin

dikepung petuah ditelikung dogma ditindas doktrin



Ketika udara lembab menyerap cahaya mentari

dan pekik domonstran di jalan-jalan melenggang pergi

malam seberingas tangan-tangan hitam kaum pecundang

hendak menghapusku sebagai kata-kata yang menakutkan



Berhari-hari mereka mengintai di ujung jalan

memastikan kapan waktuku pergi dan pulang

menyamar pedagang keliling dari pintu ke pintu

menanyai para tetangga siapa kawan dan tamuku



Malam itu, ketakutan meresapi malam dan cahaya bulan

orang-orang bergegas menutup mata di pembaringan

dua mobil patroli berpenumpang seregu pemburu

merapat tepat di depan pintu pagarku



Enam orang merangsek ke rumahku yang mungil

belasan lainnya siaga di halaman mengokang bedil

sang komandan memintaku ikut tanpa cerewet

gagang pistolnya nyembul dari balik jaket



Kupeluk istriku yang gemetaran

hati-hati kuserahkan buku alamat dan catatan

kubisikkan nama-nama yang perlu dihubungi

jika dalam 24 jam aku tak kembali



Malam memandangku bagai hewan tangkapan

di atas mobil terbuka kuhayati kasih sayang hujan

sebelum aku dimasukkan ke ruang bawah tanah

didudukkan di kursi tanpa sandaran



Ketika pintu ditutup dan lampu dimatikan

aku seolah kelemayar di gua tengah hutan

waktu bagai batu bergeming

mata rabun merabai dinding



Pintu dibuka dan ditutup lagi

tak ada tergur sapa atau basa-basi

langkah-langkah sepatu mengtari kursi

ruang hanya mulut bisu disumbat sunyi



Dan aku adalah kata-kata cinta yang menakutkan

baca, catat, dengar, sebelum dihapus dari ingatan



oleh : sitok srengenge 1995
 
More aboutKata Yang Menakutkan